MANGROVE TIRTOHARGO: PESONA KERJASAMA DENGAN PIHAK KETIGA
Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (DPMK2PS) Daerah Istimewa Yogyakarta, melakukan observasi dan kunjungan lapangan ke Kalurahan Tirtohargo Kretek Bantul pada Rabu tanggal 20 mei 2026 untuk melakukan penggalian potensi dan kerjasama kalurahan. Hal tersebut dilakukan dalam rangka melaksanakan Peraturan Daerah DIY Nomor 3 Tahun 2024 tentang Pemajuan Pembangunan Dan Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan Dan Kelurahan. Turut hadir dalam kegiatan adalah Lurah, Pamong, BUMKal Tirtohargo, Praja Kapanewon Kretek, PD Kretek dan PLD Tirtohargo.
Dari sekian banyak potensi yang telah dipaparkan Ulu-Ulu Kalurahan Tirtohargo, Tim dari DPMK2PS DIY yang diketuai Bapak Suedy, S. Sos, MA, terpikat pada pesona mangrove Kalurahan Tirtohargo. Bukan tanpa alasan, mangrove di Kalurahan Tirtohargo merupakan satu-satunya mangrove di Kabupaten Bantul dan yang kedua yang ada di Yogyakarta. Selain di Kalurahan Tirtohargo, satu lagi ada di Kalurahan Jangkaran Kapanewon Temon Kabupaten Kulon Progo. Mangrove di Kalurahan Tirtohargo seluas 5 Ha ini melindungi tanah Sultan Ground (SG) seluas 30 Ha dari abrasi air laut dan abrasi air muara Sungai Opak.
Mangrove menjadi potensi yang semakin mempesona karena santernya isu-isu lingkungan yang sedang menjadi perhatian banyak pihak. Mangrove menjadi salah satu konservasi penting yang harus dijaga kelestariannya. Konservasi dan penanaman mangrove adalah upaya penting dalam menangani perubahan iklim karena ekosistem ini merupakan penyerap sekaligus penyimpan karbon biru (blue carbon) yang sangat efektif. Mangrove mampu menyerap karbon di atmosfer 4 kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan serta melindunginya agar tidak terlepas kembali ke udara. Berikut keunggulan mangrove dalam mengatasi perubahan iklim, yaitu:
- Penyerapan Karbon Biru: hutan mangrove mampu mengubur dan menyimpan cadangan karbon dalam jumlah sangat besar (mencapai miliaran ton) di dalam biomassa dan sedimen tanah.
- Mitigasi Gas Rumah Kaca: melalui proses fotosintesis, mangrove mengambil dari atmosfer dan mengubahnya menjadi karbon organik yang terkunci di dalam lumpur.
- Adaptasi dan Ketahanan Bencana: sistem akar mangrove yang rapat berfungsi sebagai pertahanan alami untuk meredam gelombang ekstrem, badai, serta mencegah abrasi.
- Mendukung Keanekaragaman Hayati: mangrove menjadi habitat penting dan tempat memijah (nursery ground) bagi berbagai biota laut, yang menjaga keseimbangan rantai makanan di wilayah pesisir.
Mangrove Kalurahan Tirtohargo mampu memberikan pesona bagi para investor dan pihak ketiga, karena mangrove merupakan sebuah ekowisata yang menawarkan nilai investasi yang berkelanjutan dan menjanjikan. Mangrove merupakan kawasan investasi hijau sehingga investor dapat fokus pada lingkungan, sosial dan tata kelola kawasan. Mangrove Kalurahan Tirtohargo juga memiliki daya tarik wisata kano maritim. Sebuah daya tarik wisata petualangan yang diminati wisatawan. Memiliki potensi ekonomi lokal yang kuat karena melibatkan warga lokal. Penyediaan fasilitas, paket edukasi konservasi dan kuliner, akan menjamin stabilitas sosial bagi investor dan pihak ketiga, untuk memberikan dana tanggungjawab sosial dan investasi kemitraan. Infrastruktur berupa Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dan jembatan kretek 2, memperlancar arus wisatawan. Keanekaragaman hayati berupa berbagai spesies burung akan menambah nilai destinasi wisata. Serta bentang keindahan alam berupa hutan mangrove, muara sungai, padang rumput dan panorama matahari terbenam menambah daya tarik bagi investor dan wisatawan.
Secara fisik, berada pada lingkungan mangrove akan memberikan sensasi rasa suhu udara sejuk, karena kanopi daun mangrove menghalangi sinar matahari jatuh langsung pada tanah atau air, pohon mangrove melepaskan uap air ke udara sehingga udara menjadi sejuk. Daun mangrove menjadi penyaring debu dan polutan dari udara, serta melepaskan oksigen segar sehingga udara akan terasa bersih dan segar. Batang dan tajuk pohon magrove sebagai pagar pemecah angin yang cepat dari arah laut yang membawa udara kering sehingga udara menjadi tidak terlalu kering. Akar nafas menahan lumpur dan sedimen sehingga tidak hanyut ke laut lepas. Polutan air terserap ekosistem mangrove sehingga air terlihat tenang dan jernih. Rimbunnya vegetasi mangrove yang hijau memberikan efek relaksasi pada mata dan pikiran. Rapatnya pohon mangrove mampu meredam suara bising ombak sehingga menciptakan suasana yang lebih sunyi dan tenang. Udara yang sejuk, bersih, segar, air yang jernih dan suasana yang tenang, merupakan tempat yang dicari wisatawan untuk menenangkan diri dan menyegarkan pikiran dari rutinitas dan situasi rumit yang dialami.
Fungsi lain dari mangrove adalah adalah sebagai sabuk hijau (Green Belt) karena memiliki kemampuan untuk meminimalisir dampak bencana alam diwilayah pesisir. Akar mangrove berfungsi sebagai penghalang fisik untuk meredam energi gelombang tsunami dan rob air laut. Mangrove juga berfungsi sebagai benteng pelindung dari badai dan angin kencang. Sebagai pelindung garis pantai dari hantaman ombak sehingga mencegah abrasi dan erosi pesisir. Akar mangrove membantu menjaga kualitas air tanah di daratan sehingga berfungsi sebagai pelindung dari intrusi air laut.
Dari sekian banyak fungsi dan manfaat dari mangrove, maka wajar apabila Tim dari DPMK2PS DIY terpesona oleh potensi mangrove di Kalurahan Tirtohargo untuk direkomendasi kerjasama dengan pihak ketiga. Namun apakah investor dan pihak ketiga tidak akan menemui kendala dalam Pemajuan Pembangunan Dan Pemberdayaan Masyarakat dalam pengembangan potensi mangrove di Kalurahan Tirtohargo? Tentu saja ada. Berikut beberapa kendala yang ada:
- Abrasi dan gelombang pasang: kawasan mangrove Kalurahan Tirtohargo yang berada di muara Sungai Opak sangat rentan terhadap gelombang pasang air laut. Hantaman ombak sering kali merusak dan mematikan bibit mangrove yang baru ditanam yang belum memiliki akar yang kuat. Perlu adanya barier atau bronjong pelindung sehingga kesempatan hidup bibit mangrove dan tanaman mangrove itu sendiri menjadi lebih besar, lestari dan berkelanjutan.
- Akumulasi sampah yang terbawa arus muara: kesadaran masyarakat di hulu sungai untuk tidak membuang sampah di sungai masih sangat kurang. Akibatnya sampah akan menumpuk di muara sungai, menumpuk disela-sela akar mangrove dan mencemari ekosistem. Bibit mangrove yang masih kecil sangat rentan mati karena tertutup dan tercemar sampah. Meskipun pembersihan sampah sudah dilakukan secara terus-menerus, namun apabila akar permasalahan sampah tidak dihentikan, akan menjadi hal yang sia-sia. Perlu adanya koordinasi, regulasi dan aksi nyata di tingkat DIY guna penanganan sampah diwilayah masing-masing dan disepanjang aliran sungai, sehingga tidak ada sampah di muara sungai.
- Keterbatasan fasilitas penunjang wisata: pengelolaan mangrove yang selama ini dilakukan adalah swadaya oleh pemuda setempat (KP2B). Mereka swadaya menyediakan fasilitas penunjang wisata seperti toilet, area berkumpul, gardu pandang, jalur tracking, dst, namun masih sangat minim. Fasilitas yang tersedia belum sebanding dengan tingginya minat kunjungan edukasi. Perlu kepedulian dan suport semua pihak terkait dalam penyediaan fasilitas penunjang wisata. Kehadiran dari investor atau pihak ketiga dalam pengelolaan mangrove diharapkan memberi dampak baik dalam ketersediaan fasilitas penunjang wisata.
- Regulasi tata ruang: belum adanya kejelasan status lahan secara definitif (sebagian besar berstatus Sultan Ground) serta belum adanya masterplan pengembangan jangka panjang yang komprehensif dari pemerintah daerah. Hal ini membuat arah pengembangan dan pembangunan fasilitas permanen menjadi terbatas dan berisiko.
Besar harapan, mangrove di Kalurahan Tirtohargo akan mendapatkan investor dan kerjasama dengan pihak ketiga, yang tidak sekedar eksploitasi kawasan untuk keuntungan sepihak, tetapi juga yang peduli pada kelestarian dan keberlanjutan mangrove itu sendiri sehingga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan semua masyarakat. Aamiin.
Etik D.L./PD Kretek


Komentar
Posting Komentar